Sabtu, 04 September 2010

KARTUN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

Kartun (Cartoon) berasal dari bahasa Italia cartone yang artinya kertas. Pada mulanya kartun adalah penamaan bagi sketsa pada kertas a lot (stout paper) sebagai rancangan atau desain untuk lukisan kanvas atau dinding. Pada saat ini kartun adalah gambar yang bersifat dan bertujuan sebagai humor satir (I Dewa Putu Wijana, 2004 : 4). Kartun tidak hanya merupakan pernyataan rasa seni untuk kepentingan seni semata-mata, melainkan mempunyai maksud melucu, bahkan menyindir dan mengkritik. Di dalam media ini Kartun disajikan sebagai selingan dan membantu siswa setelah pembaca/siswa menikmati materi yang ada dalam buku yang lebih serius. Dengan kartun, para pembaca dibawa ke dalam situasi yang lebih santai, meskipun pesan-pesan di dalam beberapa kartun sama seriusnya dengan pesan-pesan yang disampaikan lewat buku, pesan-pesan kartun sering lebih mudah dicerna atau dipahami sehubungan dengan sifatnya yang menghibur. Tambahan pula kritikan-kritikan yang disampaikan secara jenaka tidak begitu dirasakan melecehkan atau mempermalukan.
Menurut Anderson (I Dewa Putu Wijana, 2004 : 5) aspek pertentangan dalam tradisi penciptaan kartun sebenarnya bukanlah lebih mementingkan naluri untuk mengkritik, melainkan lebih menekankan fakta-fakta historis bahwa masyarakat telah memasuki bentuk komunikasi politik yang modern, dan tidak lagi mempergunakan kekuatan atau kekuasaan. Seperti kutipan ini :” Cartoons were a way of creating collective consciences by people without acces of bureaucratic or other institutionalized forms of political muscle”.
Kartun adalah alat untuk menciptakan kesadaran kolektif tanpa harus memasuki birokrasi atau berbagai bentuk kekuatan politik. Kartun, seperti halnya film merupakan bentuk komunikasi politik biasanya diciptakan sebagai reaksi terhadap peristiwa sejarah tertentu sehingga memungkinkan digali atau di cari isi faktanya.
Masyarakat selama ini menganggap karikatur mencakup seluruh kartun yang bersifat atau bertujuan mengkritik atau menyindir, sedangkan pengertian kartun sering di batasi hanya pada gambar bermuatan humor. Sebenarnya karikatur hanyalah bagian dari kartun dengan ciri deformasi atau distorsi wajah, biasanya wajah manusia (tokoh) yang dijadikan sasarannya. Noerhadi di dalam artikelnya yang berjudul kartun dan karikatur sebagai wahana kritik social mendefinisikan kartun sebagai suatu bentuk tanggapan lucu dalam citra visual (I Dewa Putu Wijana, 2004 : 7). Dalam artikel ini konsep kartun dipisahkan secara tegas dengan karikatur. Tokoh-tokoh kartun bersifat fiktif yang dikreasikan untuk menyajikan komedi-komedi sosial serta visualisasi jenaka. Sementara itu, tokoh-tokoh karikatur adalah tokoh-tokoh tiruan lewat pemiuhan (distortion) untuk memberikan persepsi tertentu kepada pembaca sehingga sering kali disebut portrait caricature. Kata karikatur (caricature) berasal dari bahasa Italia caricatura yang artinya memberi muatan atau beban tambahan, yang direka adalah tokoh-tokoh politik atau orang-orang yang karena peristiwa tertentu menjadi pusat perhatian. Dalam hal ini deformasi jasmani tokoh-tokohnya itu tidak selamanya dimaksudkan sebagai sindiran, melainkan dapat juga hanya untuk menampilkannya secara humoristis.
Kartun adalah penggambaran dalam bentuk lukisan atau karikatur tentang orang, gagasan atau situasi yang didesain untuk mempengaruhi opini masyarakat.(Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, 2005 : 58). Walaupun terdapat sejumlah kartun yang berfungsi untuk membuat orang tersenyum, seperti halnya kartun-kartun yang dimuat dalam surat kabar. Kartun sebagai alat bantu mempunyai manfaat penting dalam pengajaran, terutama dalam menjelaskan rangkaian isi bahan dalam satu urutan logis atau mengandung makna. Kartun yang baik hanya mengandung satu gagasan saja. Kekuatan kartun untuk mempengaruhi pendapat umum, terletak pada kekompakannya, penyederhanaan isunya, dan perhatian yang sungguh-sungguh yang dapat dibangkitkan secara tajam melalui gambar-gambar yang mengandung humor. Kartun merupakan sumber informasi yang disajikan melalui dampak visual. Banyak orang yang tidak membaca edisi surat kabar akan tetapi mengikuti kartunnya secara tetap. Inilah salah satu sisi keunggulan kartun dalam menginformasikan berita yang sebenarnya merupakan kritikan yang keras tetapi karena dikemas menjadi sebuah kartun yang sifatnya jenaka maka kritikan tersebut seolah-olah menjadi lelucon tetapi tetap mengenai sasaran.
Siswa yang berbakat matematika tanpa memahami fenomena alam bisa terjebak pada segi matematis saja dengan menghiraukan arti fisisnya. Siswa mahir memecahkan persamaan matematika yang sulit dalam fisika, tapi bisa mengalami kesulitan menyimpulkan arti fisis dari relasi matematika yanf diperoleh. Tidak jarang kelemahan tersembunyi ini terbawa sampai masuk ke fakultas eksakta sains atau teknik. Dengan visualisasi kartun, konsep-konsep fisika diperkenalkan dengan cerita. Persamaan matematika untuk menjelaskan konsep itu dimulai dengan hubungan sederhana dengan operasi tambah, kurang, kali, bagi. Beberapa konsep bisa jatuh menjadi abstrak oleh guru yang tidak mampu menjelaskannya sehingga materi terkesan sulit. Pengertian percepatan negatif misalnya, diperkenalkan dengan beberapa ilustrasi yang sebagian menjadi jembatan untuk memahami konsep gaya. Ini memang khas cara seorang guru yang benar-benar guru yang mau menjelaskan satu konsep dengan berbagai pendekatan untuk memahami konsep lain yang terkait.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar